Menggaet Masyarakat di Pengawasan Kualitas Udara dengan Low Cost Sensor

Dipublikasikan pada: 11 October 2021

Menggaet Masyarakat di Pengawasan Kualitas Udara dengan Low Cost Sensor

Mengukur indeks kualitas udara merupakan proses yang kompleks dan membutuhkan investasi alat pemantauan dan dana yang cukup besar. Namun, dengan adanya sensor berbiaya rendah atau low cost sensor, pemantauan polusi udara dapat dilakukan di skala lebih kecil dengan dampak yang langsung ke masyarakat.

Selain menggunakan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional, alat sensor berbiaya rendah membuka kesempatan untuk masyarakat, LSM dan pemerintah untuk bekerja sama meningkatkan pengawasan kualitas udara. Seperti yang dilakukan di platform pantauudara.org yang menggunakan sistem pemantauan berbasis masyarakat dengan menggunakan sensor dengan harga murah dan perantara lokal sebagai alat utama pemantauan dan distribusi informasi. 

Pantau Udara adalah bagian dari proyek percontohan Community-Level Air Quality Monitoring oleh Kopernik, Pulse Lab Jakarta, UDARA Project ITB, Lembaga Gemawan, dan Indonesia Indah Foundation yang beroperasi selama 18 bulan di daerah Galur, Jakarta Pusat dikelilingi sumber polusi dari kendaraan, serta Desa Kubu Raya, Kalimantan Barat, wilayah rawan kebakaran hutan. 

Validasi data sensor murah
Low cost sensor yang digunakan oleh platform pantauudara.org adalah PurpleAir PA II SA yang dapat mengukur PM1.0, PM2.5, PM10 secara bersamaan, serta dapat mengolah data dan mengakses data secara jarak jauh dan realtime. Untuk menjaga kualitas data yang didapat dari sensor murah tersebut, tim UDARA Project ITB melakukan kajian validasi performa alat sensor yang ditempatkan di 26 titik daerah target tersebut.

Kajian yang dilakukan selama tahun 2019 hingga 2020 tersebut menyimpulkan, kondisi lokal berpengaruh pada kinerja sensor berbiaya rendah, sehingga validasi lapangan penting untuk memanfaatkan berbagai tipe low cost sensor yang terdapat di pasaran. Selama periode verifikasi, UDARA Project memasang tiga buah PA II di lokasi Kelapa Gading, Jakarta selama 52 hari dan menggunakan perbandingan kinerja sensor setipe atau validasi intra-model dengan alat Beta Attenuation Monitor (BAM) milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta untuk data PM2.5 dan PM10

Hasil validasi intra-model baik dan konsisten secara keseluruhan, namun untuk PM2.5 hampir tidak ada hubungan linear dari PA II dengan data BAM, hanya menunjukkan tingkat akurasi 15%. Sedangkan untuk PM10, ditemukan korelasi sedang - kuat antara PA II dengan data dari BAM dengan tingkat akurasi 60%. 

Memberi masyarakat peran penting
Di awal mula kajian ini, masyarakat sekitar Galur dan Desa Kubu Raya tidak menganggap pencemaran udara sebagai isu prioritas karena tidak merasa mendapatkan dampak langsung, informasi terhadap pencemaran udara dan langkah mitigasi juga tidak beredar di tingkat desa ataupun masyarakat.

Melalui website pantauudara.org, Pantau Udara memiliki fitur simpel untuk membagikan informasi kualitas polusi udara secara digital dengan gampang. Masyarakat dan kader dijadikan sebagai perantara penyebaran informasi, karena merupakan medium yang paling efektif untuk menyebarkan informasi kesehatan. Kegiatan offline juga dilakukan untuk sosialisasi ke kelompok rentan pencemaran udara yaitu anak-anak, ibu hamil dan lansia, terutama mengenai pentingnya menggunakan masker saat meninggalkan rumah. 

Kebiasaan memakai masker dan informasi tentang polusi udara meningkat di tingkat kota dan desa pascasosialisasi. Namun, minat terhadap masalah polusi udara cukup rendah dikarenakan faktor eksternal yaitu peraturan pembatasan sosial berskala besar pertama di Jakarta yang sedang diimplementasikan, serta tidak ada kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan Barat

Inovasi teknologi dan informasi
Low cost sensor memang sebuah inovasi terbaru untuk mengukur kualitas udara dengan harga yang terjangkau untuk komunitas maupun individu. Namun, kualitas datanya tentu saja tidak seandal alat pemantau udara yang digunakan sebagai referensi (reference grade). Penelitian dari tim UDARA ITB telah menyebutkan bahwa akurasi low cost censor masih jauh dari alat pemantau reference grade. Untuk mendapatkan data yang akurat dari alat pemantau kualitas udara berbiaya rendah, harus dilakukan validasi dan kalibrasi alat secara rutin. 

Namun meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai polusi udara juga sama pentingnya. Portal informasi dengan akses yang lebih baik ke data kualitas udara, akan menciptakan ruang diskusi untuk masyarakat agar dapat bertanya dan bergabung bersama dalam mengambil langkah-langkah baik untuk mengatasi masalah kualitas udara.

Related tags: